Sabtu, 11 Juli 2020

Aga dan kalamullah




Aga 10 bulan

Hai, tulisan ini sebagian besar sudah dibuat di tahun 2017. Saya baru sadar masih tersimpan di draft 2020. Karena itu, tulisan ini baru saja di posting. Saya berikan opening ini dan penutup di akhir tulisan untuk membuat tulisan ini tetap bisa dibaca di 2020.

***

Saya percaya semua manusia yang dilahirkan ke dunia itu suci dan dekat dengan penciptanya. Saya buktikan sendiri hal itu pada anak saya: Aga. Ia selalu menoleh dan mencari sumber suara saat adzan berkumandang. Dia diam, takjub, hikmat, mendengarkan.

Sebagai umat muslim tentu saya takjub. Ia nampak begitu familiar dengan panggilan Allah. Ruh nya yang masih suci seakan terpanggil untuk mendekat. Mungkin juga sayup-sayup ia teringat, adzan lah kalimat yang pertama Ia dengar saat terlahir ke dunia. Adzan yang dikumandangkan Akung waktu itu. 

Rupanya tidak hanya adzan yang mampu membuatnya diam, hikmat dan mendengarkan. Ayat-ayat Al Quran juga mampu menarik perhatian Aga saat bayi. Bahkan ayat-ayat Al Quran mampu menenangkannya saat rewel dan saat berontak menyusu. MasyaAllah...sungguh tidak ada yang bisa menutup-nutupi kebesaran-Nya. :)

Mimpi Kami

Seperangkat alat sholat dan Al Quran menjadi awal mimpi saya dan suami di hadapan penghulu. Allah maha mengetahui niat dibalik semua kejadian. Bukan tamak akan kemampuan diri dalam mempelajari Ilmu Al Quran, kami hanya ingin membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah dengan berlandaskan Al Quran. Saya tidak pernah bermaksud memberatkan pertanggungjawaban suami saya kelak di akhirat, niat kami murni menjadikan Al Quran pedoman di keluarga kami. Hingga saat memiliki anak nantinya kami ingin memberikan pelajaran sebaik-baiknya tentang Al Quran.

Saya dan suami memang bukan seorang hafidz atau hafidzah. Bacaan saya pun mungkin masih jauh dari sempurna. Untuk istiqomah membaca Al Quran saja rasanya saya bukan teladan yang patut. Saya merasa masih menjadi ibu yang banyak sekali kekurangan dalam ilmu Al Quran. Hingga saya pun agak malu meski hanya untuk bermimpi memiliki anak yang hafidz hafidzah. Anak yang senang belajar, membaca, dan menghafalkan Al Quran. :)

Saya pernah mendengar orangtua yang membagikan tips menjadikan anak-anaknya hafidz hafidzah. Dia tidak putus membaca Al Quran setiap hari satu juz selama hamil. Hingga khatam paling tidak 9 kali selama hamil. Ah makin menciut lah saya. Apalah saya yang sewaktu hamil hanya memilih-milih Ayat-Mu untuk kesenangan hamba semata. Saya memilih membaca surat Yusuf hanya karena ingin anak yang ganteng, pun dengan pilihan surat maryam jika anak yang terlahir perempuan. Ah satu surat itu saja tidak mampu saya tuntaskan setiap hari.

Saya agak menyesal kalau ingat kemana waktu saya habiskan saat itu, hingga sebegitu sempitnya waktu untuk membaca kalimat-kalimat-Nya. Padahal ternyata Allah berikan saya nikmat 2x lipat. Allah kabulkan memiliki anak laki-laki yang sehat dan tampan. Namun, baik secara fisik saja tidak lantas membawa anak saya bahagia di dunia dan akhirat. Saya sadar hanya akhlak yang baik dan kecintaan pada Al Quran yang bisa. 

Mengenalkannya pada Ayat-ayat Allah

Saya mulai niat baik mengenalkan Aga ayat-ayat Al Quran dengan langkah kecil. Saya membacakan surat-surat pendek yang saya bisa sebelum tidur. Surat-surat pendek yang benar-benar saya kuasai. Terbatas yang saya kuasai. An-nass, Al Falaq, Al Kafirun, Al ikhlas, Al Qadr, Ad Dhuha, Ayat Kursi, (dikit ya :D) hingga akhirnya saya tutup dengan doa sebelum tidur. Kadang juga ditambahkan oleh suami dengan hafalan surat yang lebih banyak dari saya.

Niat saya membacakannya surat-surat pendek itu murni hanya untuk menenangkannya sebelum tidur. Sama sekali tidak ada harapan dia akan hapal. Saya mulai sejak Aga masih bayi sampai suatu ketika dia mulai bisa berbicara. Di usia 2,5 waktu itu kosakatanya belum banyak. Dia sudah mulai mengikuti saya membaca surat pendek. Dia sudah mulai hapal dua tiga huruf di bagian akhir surat-surat itu. Sampai akhirnya dia bisa bicara lumayan banyak namun justru menolak saya bacakan surat-surat itu lagi tapi merasa senang saat Ayahnya bacakan AL insyirah dan Al Fill. Sampai akhirnya dia bosan dan menolak lagi dibacakan surat-surat itu dan Ayah membacakan surat Al Qoriah. 

Hingga suatu ketika saat bermain Aga menggumam potongan surat Al Qoriah. Sekali , dua kali begitu sampai pada saat yang tepat saya perhatikan dia sudah menghafalnya. MasyaAllah. Usianya baru 2,5tahun kala itu.
.
Berawal dari Al Qoriah ini saya mulai mengecek surat pendek lainnya yang tiap kali saya bacakan sebelum tidur. MasyaAllah..alhamdulillah dia sudah hafal. Saya pun melanjutkan dengan surat yang lain. Kebetulan saya membelikannya boneka hafidz doll. Boneka ini bisa mengaji dan bisa memutar surat yang sama selama 30menit. Setiap hari, sewaktu dia bermain sambil saya nyalakan murotal sebuah surat. Satu surat saja sampai waktu yang pas saat dia mau untuk murojaah. Saat saya bisa mengecek hafalannya. Jika dia sudah hafal, saya ganti murotal surat yang lain. Begitulah metode yang saya lakukan. 
.
Berbekal kemampuannya inilah, saya memilih sekolah berbasis hafalan Al Quran untuknya. Alhamdulillah banyak terbantu sekali disini. Ustazah yang sabar dan telaten banyak membetulkan makhroj yang masih belum tepat. Kebiasaan di sekolah juga membuatnya hafal banyak surat lebih cepat.
.
Istiqomah Kunci Penting

Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka diapakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orangtuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkannya di dunia. Keduanya bertanya, "Mengapa kami dipakaikan jubah ini?" Dijawab, "Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran." (HR Al-Hakim)
.
Sebelum ini saya berpikir, enak ya orangtua ga ikut ngapalin tapi ikut dikenakan jubah kemuliaan jika memiliki anak yang hafal Al Quran. Setelah menjalani peran menjadi orangtua yang membimbing anak untuk mempelajari dan menghapal Al Quran, saya baru sadar yang memegang kunci itu adalah orangtua. Bukan guru atau sekolah. Ya karena dari rumah lah, dari orangtualah yang membangun rasa cinta pada Al Quran, yang membangun kebiasaan untuk dekat dengan Al Quran.
.
Suatu waktu saat Aga duduk di TK B saya agak terhenyak ketika Aga lupa beberapa surat di juz 30 yang dulu sudah dia hapal. Kondisi saya waktu itu baru saja melahirkan anak kedua dan tidak bs memantau banyak murojaahnya. Padahal di TK A juz 30 hampir selesai dia hapalkan.  Sedih tapi kemudian introspeksi diri. Fokus pada kehamilan dan terlena pada banyak aktivitas lain membuat saya sadar makin jarang memperdengarkan murotal ke Aga.
.
Saya kemudian mulai memperbaiki diri, mencari celah dimana saya bisa mulai rutin memperdengarkan lagi murotal untuk Aga. Sadar diri murojaah sambil membuka Al Quran makin sulit saya lakukan dengan hadirnya bayi, maka saya memilih beberapa menit sebelum tidur untuk memperdengarkan murotal juz 30. Saya mulai dari surat An Naba hingga selesai. Saya pilihkan video dari youtube versi suara anak-anak. Alhamdulillah sedikit usaha ini membuahkan hasil. Aga dengan mudah merecall kembali ingatan juz 30 nya. 
.



Di akhirussanah sekolah Aga, Ia berhasil mendapatkan best tahfidz, mampu menghafal juz 30, dan beberapa surat di juz 29. Alhamdulillah wa syukurilah. Itu semua semata-mata kemudahan yang diberikan Allah SWT. Kami sadar PR kami sebagai orangtua masih banyak. Tidak hanya sekedar membantu menjaga hafalan Aga, tapi juga menanamkan kecintaannya kepada Al Quran, menanamkan kebiasaan baik untuk selalu dekat dengan Al Quran. PR itu tentu saja bukan tentang menjaga Aga saja, tapi juga tentang bagaimana kami memperbaiki diri kami sendiri, memberikan contoh terbaik baginya untuk mencintai Al Quran. 

Jumat, 10 Juli 2020

I'm Back




Well hellooww again
Long time no see
Yes long looong time saya tidak menulis.
Sebelumnya berharap blog kembali aktif dengan repost tugas-tugas di Institut Ibu Profesional, tapi ternyata mandeg di tugas ketiga. padahal matrikulasi tugasnya kalo g salah ada 9. Sudah lanjut kelas bunda sayang pula. Yang pada akhirnya lebih mudah saya setor di Instagram. Baikah tak apa, mari berdamai dengan keterbatasan diri ini. Kita fokuskan blog untuk tulisan tertentu saja. Bismillah kali ini niat mau menghidupkan blog lagi. Bersama lingkungan teman-teman yang saling support untuk menghidupkan blog, semoga istiqomah
.
Sebelum ini sebenarnya saya berpikir untuk mengganti nama blog karena anak sudah bertambah satu dan rasanya sudah ga relevan lagi nama itu. Cuma saya pikir kok jadi ga earchatcing juga ya kalo saya tambahkan nama anak kedua saya karena nama blognya jadi makin panjaaang. Ah friends...any suggest?
.
Sementara ini saya akan jalan dengan nama lama saja dan fokus untuk menulis. Semoga anak kedua saya paham dan ga iri ya. Hehehe...belum ngeh juga sih dia. Toh anak kedua jg adik dari anak pertama yang jadi nama blog ini kan. Jadiiii anggap saja masih relevan lah ya. Wkwkwkw maksa. Baiklah sekian opening penyemangat ini. Mari menulisssss 

Minggu, 04 November 2018

TUGAS NICE HOMEWORK 3

Tugas ketiga kali ini ada 3 kategori. Untuk yang belum menikah, sudah menikah, maupun yang single parent. Ini dia tugasnya

*MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH* 

Bunda, setelah kita belajar tentang "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah" maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.

*Pra Nikah*

Bagi anda yang sedang memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh yang baik. 

a. Tulislah suara hati anda dengan tema “UNTUKMU CALON IMAMKU”
b. Lihatlah diri anda, tuliskan kekuatan potensi yang ada pada diri anda.
c. Lihatlah orangtua dan keluarga anda. Silakan belajar membaca kehendakNya, mengapa anda dilahirkan di tengah-tengah keluarga anda saat ini dengan bekal/senjata potensi diri anda. Misi rahasia hidup apa yang DIA titipkan ke diri kita. Tulis apa yang anda rasakan selama ini.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda?adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa anda dihadirkan di lingkungan ini?

*Nikah*

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

*Orangtua Tunggal (Single Parent)*

Bagi anda yang saat ini sedang mendidik anak-anak anda sendirian tanpa kehadiran pasangan hidup kita.

a. Buatlah “Tanda Penghormatan’, dengan satu dua kalimat tentang sisi baik “ayah dari anak-anak kita” sehingga dia layak dipilih Allah menjadi ayah bagi anak kita, meskipun saat ini kita tidak lagi bersamanya.
b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak anda, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan dengan tantangan keluarga yang luar biasa seperti ini. Apa misi hidup rahasiaNya sehingga kita diberi ujian tetapi diberikan bekal kekuatan potensi yg kita miliki.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?
Setelah menjawab pertanyaan - pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya "peran spesifik keluarga" anda di muka bumi ini.
Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga kata demi kata di nice homework #3 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan hati yang membacanya.


Karena saya sudah menikah maka saya mengerjakan tugas yang dikhususkan untuk siswa yang sudah menikah. Berikut jawaban saya


A. SURAT CINTA UNTUK SUAMI
Rasanya saya tidak perlu merasa jatuh cinta kembali kepada suami saya lewat surat ini. Saya terus mencintainya lagi dan lagi setiap harinya. Rasanya tidak pernah ada tempat untuk kata kembali karena saya yakin cinta kami tumbuh dari setiap detik kebersamaan, support dan tentu oleh doa-doa yang kami panjatkan. Surat cinta kemarin adalah akumulasi sementara dari beberapa hal yang kami lalui, yang masih dan akan terus tumbuh.

Surat cinta saya kirimkan via email. Saat suami di kantor. Di surat cinta kemarin saya membocorkan satu momen yang sebelumnya suami saya tidak tahu. Momen saat saya yakin bahwa dia lah lelaki hebat yang saya pilih untuk menjadi ayah dari anak-anak saya nantinya. Tapi mohon maaf karena kami sepakat untuk tidak menshare keseluruhan isi surat itu. Yang jelas suami merespon dengan baik. Dia sampaikan terimakasih karena telah menemani dan menerima segala kekurangannya. And he said," I LOVE U" of course with kiss emticon (via whatsapp). Hehehehe...Meski cukup singkat dan padat khas laki-laki. But I now...we know...we feel... we will always loves each other.

B. ANAK LUAR BIASA
Aga Khairan Navitra Nadjib. Anak pertama saya. Saya memanggilnya Aga. Lahir 13 Februari 2013. Memilikinya tidak hanya merasa terberkahi oleh banyak kebahagiaan, tetapi juga seolah Allah beri banyak kemudahan. Mulai dari kelahirannya, lahir dengan normal, lancar tanpa drama maupun kontraksi yang lama. Lalu karakter anak tenang dan relatif tidak banyak merepotkan. Di saat orangtua lain bingung menjaga anaknya anteng di mushola saya tenang saja karena anak saya anteng bermain di sajadah yang saya gelar. Di saat orangtua mulai menyerah memberi makan di highchair karena si anak yang tidak betah, saya masih konsisten mendudukkannya di highchair krn karakter Aga yang anteng.

Dia sempat membuat saya was-was karena perkembangan bicara dan motorik kasarnya yang lambat. Tapi dia selalu saja bisa menunjukkan kepintarannya sesaat sebelum saya yakin harus ke dokter untuk konsultasi tumbuh kembang. Seolah dia pengen bilang "Aq baik-baik aja kok Ibu. Tenaang tidak perlu ke dokter."

Aga anak yang luar biasa. Cepat sekali menangkap segala hal. Ia mampu mengenal warna di usia 2T,mampu menghapal dan mengerti huruf besar dan kecil juga di umur 2T, bahkan mampu membaca di usia 3T, tepatnya 3T lebih 10 bulan. Semuanya seolah otodidak. Karena ibu tidak pernah menargetkanmu bisa ini itu di usia sekian. Asal semua sesuai perkembangannya saja. Tapi kamu memang tipe pembelajar yang hebat. Ibu hanya memberi tahu maksimal dua kali, kamu mengingatnya merekamnya di otakmu dengan  baik.

Begitu pun dengan ayat-ayat Allah. MasyaAllah nak, fitrahmu yang suci membuat Ayat-ayat Allah dengan mudahnya tertancap di ingatanmu. Ibu masih ingat bagaimana tiba-tiba ketika usiamu 3T kamu membaca Al Qoriah sewaktu bermain-main sendiri. Ibu yang kala itu nggak hapal, harus membuka juz amma untuk menyemak bacaanmu. Dan ternyata subhanallah, kamu mampu menghapalnya tanpa sengaja. Setelah itu baru ibu tahu kamu sudah menghapal surat-surat pendek lainnya yang hanya kamu dengarkan sebelum tidur. MasyaAllah. Minatmu pada ayat-ayat Allah begitu besar. Ibu ingat bagaimana kamu meminta diputarkan video Al infithar berulang-ulang, sampai akhirnya kamu hapal dan tiba-tiba membacanya sendiri tanpa beban. Subhanallah, Allahuakbar.

Semua potensi luar biasa yang kamu miliki nak, rasanya membuat ibu bangga padamu. Ibu tidak hentinya berdoa semoga Allah selalu melindungimu dari segala marabahaya, dari segala hal buruk di luar sana, selalu menetapkanmu dalam iman dan islam, menjadikanmu anak sholeh yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat bangsa&negara.

C. POTENSI DIRI
Tidak hentinya saya bersyukur dengan banyak hal yang sudah Allah berikan ke saya. Suami yang sabar dan pengertian. Hingga anak yang luar biasa. Saya sebenarnya merasa sebagai orang yang biasa-biasa saja. Bukan wanita yang super duper penyayang juga sehingga dipasangkan dengan suami penyabar. Pun bukan juga ibu yang hebat luar biasa hingga bisa memiliki anak yang luar biasa.
Jika ingin membanggakan sebuah ilmu atau sifat dari diri saya rasanya saya masih jauh dari kata sempurna. Tapi saya tahu Yang Maha Sempurnalah yang selalu menggenapkan keganjilan yang saya miliki. Ya, dengan kekuatan doa yang saya panjatkan kala senang maupun susah. Rasanya itu kekuatan utama yang saya miliki hingga saat ini.

Setelah menjadi ibu rumah tangga saya memutuskan berjalan beriringan dengan suami. Saya tidak berlomba mengejar karir di ranah publik. Apalagi menyumbang pendapatan setiap bulannya. Saya tahu jika kami sama-sama berlari mengejar sesuatu di luar sana, akan ada sesuatu yang amat sangat berharga yang tertinggal. Saya memilih menapaki jalan lain yang mengokohkan pondasi keluarga kami. Saya memilih berkarir di ranah domestik, membesarkan putra kami dengan sebaik-baiknya. Saya menempuh jalan langit. Berusaha konsisten dengan sholat Dhuha dan sholat di sepertiga malam. Meminta dan terus meminta rejeki, hingga keberkahan dalam keluarga kami.

Beberapa tetangga dan saudara dari keluarga besar bertanya bagaimana mendidik seorang Aga menjadi seperti itu. Pintar,berani tampil, hingga mampu menghapal surat-surat yang ayatnya cukup panjang di usia belia. Saya agak kebingungan menjawabnya karena yang saya lakukan sebenarnya cukup sederhana yang sebenarnya saya yakin juga bisa dengan mudah semua orangtua lakukan. Hingga akhirnya mereka pun bertanya dimana Aga bersekolah. Padahal di sekolah pun para guru bertanya bagaimana cara saya mengajari Aga hingga bisa seperti itu. Dan saya pun makin kebingungan menjawab. Saya berikan jawaban yang sama. Yang sebenarnya hal yang dilakukan semua orangtua juga. Lalu saya pun merenung dan mencari jawabannya sendiri. Dan ternyata Allah lah yang membuatnya mudah. Allah berikan rejeki kemudahan menerima ilmu pada anak saya. Semua karena Allah, karena kekuatan doa yang diam-diam saya pinta seusai sholat.

D. SAYA DAN LINGKUNGAN
Sarjana arsitektur, mantan aktivis kampus, dan mantan wartawan. Mungkin banyak yang sangsi dan menyayangkan kenapa saya hanya diam di rumah. Tidak mengajarkah?jadi dosen?atau bekerja lagi? Setidaknya ada banyak kebermanfaatan yang bisa saya hasilkan dari ilmu yang saya miliki.
Ya jika disinggung soal materi, saya bisa mengelak dan bersyukur dengan kecukupan yang diberikan suami. Tapi jika disinggung soal kebermanfaatan diri, ah siapa sih yang tidak ingin bermanfaat bagi orang lain dalam hal kecil sekalipun.

Dulu saya sering menulis tentang bagaimana kita harus menjaga lingkungan dan bumi kita. Mengkampanyekan hemat air, hemat listrik, hingga memilah sampah. Rasanya munafik sekali jika saya tidak melakukan apa yang sudah saya tulis. Saya pun memulai dari diri saya sendiri. Mengganti popok sekali pakai dengan popok kain, memilah sampah organik&non organik, dan merecycle barang-barang yang masih bisa digunakan.

Saya mencoba mengkampanyekan gerakan cinta lingkungan ini dengan menjual produk popok kain modern pengganti diapers. Saya membuka online shop pertama saya dengan berjualan barang ini. Lalu giat mengkampanyekan bahaya sampah diapers di sosial media. Pendapatan dari berjualan ini tidak banyak tapi cukup lumayan hingga bisa diputar untuk berjualan produk ramah lingkungan lainnya seperti laundry ball dan pembalut kain dewasa.

Saya juga turut aktif menjadi bagian pemrakarsa bank sampah di lingkungan perumahan saya. Alhamdulillah setelah sampah organik dan non organik dipisah kebermanfaatannya bisa berlanjut. Sampah organik kami olah menjadi kompos. Sampah non organik ditimbang di pengepul. Uang hasil timbangannya disumbangkan untuk perluasan mushola yang dipakai juga untuk mengaji anak TPA.
Bank sampah kami masih terus berproses. Harapannya nanti kompos akan kami gunakan untuk menanam sayur mayur, bumbu, obat dan bahan pangan lainnya. Sehingga kebermanfaatannya akan menjadi lingkaran yang sempurna. Semoga Allah lancarkan bersama-sama menularkan virus dan menciptakan lingkungan yang lebih baik lagi.

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH (Materi Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #3)

Materi Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #2
Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, di mana kita berdua bersama
suami diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh
karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah
selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh. Maka tugas utama kita sebagai pembangun
peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya
sesuai keinginan kita.

Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi
spesifiknya”. Tugas kita untuk memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan
dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk
melanjutkan keturunan atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu,
kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa
sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan,
meski sudah bertahun-tahun menikah.
Dari mana kita harus memulainya?

PRA NIKAH
Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun
peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:
a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda dan
kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang
pernikahan, dan tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut. Minta dia segera
menyelesaikannya.

Karena, ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK
LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

NIKAH
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun
peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Pertama temukan potensi unik kita dan suami. Coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih
“dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai
hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
Kedua, lihat diri kita. Apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di
muka bumi ini sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa
pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?
Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih
untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita?
Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa
Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
Keempat, lihat lingkungan di mana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup
dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan
keluarga kita di sini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang
berada di sekeliling kita saat ini?
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi
pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka
bumi ini.

ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang
perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.
a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut
menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa
kehadiran ayahnya?
Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi

dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-
anak.

Karena,
It Takes a Village to Raise a Child
Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak.

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan
makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di
jalanNya. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang
menghampiriny, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.
Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang
paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam
sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak,
bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan
berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun
Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober
2016

Link video: https://www.youtube.com/watch?v=-ZryAwu9c-I

Minggu, 23 September 2018

TUGAS NICE HOMEWORK 2

Tugas kedua ini nggak kalah serunya. Kami disuruh menyusun indikator terbaik dari ketiga peran kita. Tugas ini membutuhkan diskusi dengan suami dan juga anak. Kalo anak masih terlalu dini untuk bisa diajak diskusi kami disuruh membuat indikator yang kira-kira sesuai harapan sang anak. Dan ini dia pengantar tugasnya:

📚 *NICE HOME WORK #2*📚 

Bunda, setelah memahami tahap awal
menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan
Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat

📝 ✅ *"CHECKLIST INDIKATOR* ✅📝 
PROFESIONALISME PEREMPUAN"*
a, Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu
Buatlah indikator yg kita sendiri bisa
menjalankannya. Buat anda yang sudah
berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator
istri semacam apa sebenarnya yang bisa
membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada
anak-anak, indikator ibu semacam apa
sebenarnya yang bisa membuat mereka
bahagia.Jadikanlah jawaban-jawaban mereka
sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah
indikator diri dan pakailah permainan
"andaikata aku menjadi istri" apa yang harus
aku lakukan, andaikata kelak aku menjadi
Ibu, apa yang harus aků lakukan..

Kita belajar membuat "Indikator" untuk diri
sendiri.



Kunci dari membuat Indikator kita singkat
menjadi SMART yaitu :

SPECIFIK (unik/detil)

MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1
bulan, 4 kali sharing hasil belajar)

ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah
dan tidak terlalu mudah)

REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi
kehidupan sehari-hari)

TIMEBOND (Berikan batas waktu)


Salam lbu Profesional,
/Tim Matrikulasi Institut lbu Profesional/



Saat mengerjakan tugas ini saya masih dalam keadaan hamil muda. Hasilnya seperti ini





 Setelah dijalani tenyata ada beberapa evaluasi. 



Akhirnya penyesuaian pun dilakukan. Revisinya jadi seperti ini



Yak itu tadi hasil tugas saya. Setelah melahirkan indikatornya pun berubah. Karena ada satu anggota baru lagi di keluarga kecil saya. But so far menyusun indikator ini membantu banget untuk sadar betul peran saya dalam keluarga kecil saya ini. Next insyaAllah mau menyusun tugas ini lagi. Bukan untuk dikumpulkan di IIP lagi tapi sebagai acuan dalam saya melangkah. InsyaAllah. Semoga ga lalai. Hehehe 

MENJADI IBU PROFESSIONAL KEBANGGAAN KELUARGA (Materi Ibu Profesional Kelas Matrikulasi sesi 2)

Materi Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #2
Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA
Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #5? 
Pekan ini kita akan belajar bersama 
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?
Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna;
1. perempuan yang telah melahirkan seseorang; 
2. sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
3. panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 
4. bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 
5. yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna; 
1. bersangkutan dengan profesi; 
2. memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --; 

Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang : 

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?
Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.


VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.


BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?
Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya
b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?
“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”
Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena customer kita adalah anak-anak dan suami. Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :
BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional


/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

Selasa, 27 Maret 2018

REVIEW NICE HOMEWORK 1

Selain ada materi dan tugas rutin setiap pekan, ada juga diskusi tentang tugas yang sudah kita buat. Disini rasanya jadi jauh lebih bisa memahami materi lagi, serasa diingatkan kembali dan kembali lagi atas kesalahan-kesalahan kecil yang dampaknya membuat kita stuck dan tidak berubah ke arah yang lebih baik. 

Review NHW yang pertama ini tentang bagaimana kita untuk fokus pada jurusan ilmu yang kita pilih agar tidak tergerus pada arus informasi yang begitu banyaknya dan tidak membuang waktu percuma.
Berikut saya salin materinya:

*REVIEW NICE HOMEWORK #1*

_Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional_

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta Matrikulasi IIP Batch #5?
Tidak terasa sudah 1 pekan kita bersama dalam forum belajar ini. Terima kasih untuk seluruh peserta yang sudah “berjibaku” dengan berbagai cara agar dapat memenuhi “Nice Homework” kita. Mulai dari yang bingung mau ditulis dimana, belum tahu caranya posting sampai dengan hebohnya dikejar deadline:). Insya Allah kehebohan di tahap awal ini, akan membuat kita semua banyak belajar hal baru, dan terus semangat sampai akhir program.

Di NHW#1 ini, tidak ada jawaban yang benar dan salah, karena kita hanya diminta untuk fokus pada ilmu-ilmu yang memang akan kita tekuni di Universitas Kehidupan ini. Yang diperlukan hanya dua yaitu FOKUS dan PERCAYA DIRI. Jangan sampai saat kuliah dulu kita salah jurusan, bekerja salah profesi, sekarang mengulang cara yang sama saat menapaki kuliah di universitas kehidupan, tapi mengaharapkan hasil yang berbeda. Kalau pak Einstein menamakan hal ini sebagai “INSANITY”

*_INSANITY : DOING THE SAME THINGS OVER AND OVER AGAIN,AND EXPECTING DIFFERENT RESULT_*
– _Albert Einstein_

Setelah kami cermati , ada beberapa peserta yang langsung menemukan jawabannya karena memang sehari-hari sudah menggeluti hal tersebut. Ada juga yang masih mencari-cari, karena menganggap semua ilmu itu penting.

Banyak diantara kita menganggap semua ilmu itu penting tapi lupa menentukan prioritas. Hal inilah yang menyebabkan hidup kita tidak fokus, semua ilmu ingin dipelajari, dan berhenti pada sebuah “kegalauan” karena terkena “tsunami informasi”. Yang lebih parah lagi adalah munculnya penyakit “FOMO” (Fear of Missing Out), yaitu penyakit ketakutan ketinggalan informasi. Penyakit ini juga membuat penderitanya merasa ingin terus mengetahui apa yang dilakukan orang lain di media sosial. FOMO ini biasanya menimbulkan penyakit berikutnya yaitu ”NOMOFOBIA”, rasa takut berlebihan apabila kehilangan atau hidup tanpa telepon seluler pintar kita.

Matrikulasi IIP batch#5 ini akan mengajak para bunda untuk kembali sehat menanggapi sebuah informasi online. Karena sebenarnya sebagai peserta kita hanya perlu komitmen waktu 2-4 jam per minggu saja, yaitu saat diskusi materi dan pembahasan review, setelah itu segera kerjakan NHW anda, posting dan selesai, cepatlah beralih ke kegiatan offline lagi tanpa ponsel atau kembali ke kegiatan online dimana kita fokus pada informasi seputar jurusan ilmu yang kita ambil. Hal tersebut harus diniatkan sebagai investasi waktu dan ilmu dalam rangka menambah jam terbang kita.

Katakan pada godaan ilmu/informasi yang lain yang tidak selaras dengan jurusan yang kita ambil, dengan kalimat sakti ini :

*MENARIK, TAPI TIDAK TERTARIK*

Apa pentingnya menentukan jurusan ilmu dalam universitas kehidupan ini?

*JURUSAN ILMU YANG KITA TENTUKAN DENGAN SEBUAH KESADARAN TINGGI DI UNIVERSITAS KEHIDUPAN INI, AKAN MENDORONG KITA UNTUK MENEMUKAN PERAN HIDUP DI MUKA BUMI INI*

Sebuah alasan kuat yang sudah kita tuliskan kepada pilihan ilmu tersebut, jadikanlah sebagai bahan bakar semangat kita dalam menyelesaikan proses pembelajaran kita di kehidupan ini.

Sedangkan strategi yang sudah kita susun untuk mencapai ilmu tersebut adalah cara/kendaraan yang akan kita gunakan untuk mempermudah kita sampai pada tujuan pencapaian hidup dengan ilmu tersebut.

Sejatinya,

*SEMAKIN KITA GIAT MENUNTUT ILMU, SEMAKIN DEKAT KITA KEPADA SUMBER DARI SEGALA SUMBER ILMU, YAITU “DIA” YANG MAHA MEMILIKI ILMU*

Indikator orang yang menuntut ilmu dengan benar adalah terjadi perubahan dalam dirinya menuju ke arah yang lebih baik.

Tetapi di Institut Ibu Profesional ini, kita bisa memulai perubahan justru sebelum proses menuntut ilmu. Kita yang dulu sekedar menuntut ilmu, bahkan menggunakan berbagai cara kurang tepat, maka sekarang berubah ke Adab menuntut ilmu yang baik dan benar, agar keberkahan ilmu tersebut mewarnai perjalanan hidup kita.

*MENUNTUT ILMU ADALAH PROSES KITA UNTUK MENINGKATKAN KEMULIAAN HIDUP, MAKA CARILAH DENGAN CARA-CARA YANG MULIA*

Salam Ibu Profesional,


/Septi Peni Wulandani/

Sumber Bacaan :
_Hasil Penelitian “the stress and wellbeing” secure Envoy, Kompas, Jakarta, 2015_
_Materi “ADAB MENUNTUT ILMU” program Matrikulasi IIP, batch #5, 2018_
_Hasil Nice Home Work #1, peserta program Matrikulasi IIP batch #5, 2018_